Perilaku Peneliti Indonesia: Mengejar Kuantitas Publikasi vs. Kualitas & Dampak pada Pendidikan Nasional
KAJIAN MENDALAM
Perilaku Peneliti Indonesia: Mengejar Kuantitas Publikasi vs. Kualitas & Dampak pada Pendidikan Nasional
(ringkasan, analisis sebab-akibat, rekomendasi; dengan rujukan ilmiah & Qur’ani)
Ringkasan eksekutif
-
Selama dekade terakhir, produktivitas publikasi Indonesia meningkat tajam — tetapi banyak publikasi tertuju pada kuantitas untuk memenuhi persyaratan karier (SINTA, kenaikan jabatan, akreditasi), bukan pada relevansi atau hilirisasi temuan ke kebijakan pendidikan. (IAES)
-
Pemerintah kini mendorong pergeseran ke “riset berdampak” (program hilirisasi & Diktisaintek Berdampak), sebagai respons terhadap masalah kualitas dan relevansi riset. Ini menunjukkan pengakuan masalah sekaligus arah perbaikan. (Kem Diktis Aintek)
-
Fenomena “publish or perish” dan tekanan metrik mendorong beberapa praktik suboptimal: penelitian kecil berulang, potensi publikasi di jurnal rendah mutu/predator, dan minimnya translasi hasil ke praktik pendidikan — sehingga hasil penelitian sering tidak meningkatkan mutu pendidikan di lapangan. Kajian global juga menyoroti krisis kualitas akibat volume publikasi yang masif. (PMC)
1. Bukti & konteks (apa yang terjadi sekarang)
-
Instrumen metrik seperti SINTA, sitasi, dan jumlah publikasi sering menjadi dasar penilaian karier, akreditasi, dan alokasi dana. Tekanan untuk memenuhi angka-angka tersebut jelas memengaruhi perilaku peneliti. (IAES)
-
Inisiatif kebijakan terbaru: Kemdiktisaintek meluncurkan program-program yang menekankan hilirisasi dan riset berdampak untuk memaksa pergeseran fokus dari kuantitas ke kualitas dan aplikasi. (Kem Diktis Aintek)
-
Kecenderungan global: perdebatan internasional tentang “publish or perish” dan melimpahnya publikasi berkualitas rendah membuat fenomena lokal bukan kasus tunggal—tetapi ada faktor lokal yang memperburuknya (insentif, kapasitas, bahasa, akses). (PMC)
2. Penyebab utama (analisis akar masalah)
-
Struktur insentif yang berbasis metrik kuantitatif
-
Kenaikan pangkat, tunjangan fungsional, dan akreditasi lembaga sering menuntut jumlah publikasi dan skor SINTA. Ini mendorong produksi paper sebanyak mungkin, tidak harus yang relevan secara lokal. (IAES)
-
-
Budaya akademik & manajemen institusi
-
Beberapa universitas menilai produktivitas berdasarkan jumlah, bukan dampak; manajemen yang menekan dosen agar “publish or perish” memperkuat perilaku tersebut.
-
-
Tekanan pendanaan & kompetisi
-
Dana riset bergantung pada track record publikasi; peneliti mematahkan program besar menjadi beberapa paper kecil (“salami slicing”) untuk menaikkan jumlah publikasi.
-
-
Akses & kapasitas (skill menulis & bahasa)
-
Hambatan publikasi di jurnal bereputasi internasional (bahasa Inggris, standar metodologis) memaksa peneliti menerbitkan di jurnal lokal berperingkat rendah atau predatory journals — yang mengurangi visibilitas dan dampak. (360)
-
-
Sistem editorial & predator journals
-
Kemudahan penerbitan di beberapa jurnal yang kurang ketat peer-review memungkinkan publikasi dengan mutu rendah, yang menambah volume tanpa kualitas.
-
-
Kurangnya koneksi penelitian → kebijakan/praktik
-
Mekanisme transfer pengetahuan—kolaborasi universitas-pemerintah, pengabdian masyarakat berbasis bukti—sering lemah; sehingga penelitian tidak “mendarat” di ruang kebijakan pendidikan. (Kem Diktis Aintek)
-
3. Manifestasi perilaku peneliti yang mengejar kuantitas
-
Salami-slicing: memecah satu studi besar menjadi beberapa artikel kecil.
-
Publikasi di jurnal lokal berperingkat rendah / predatory demi memenuhi angka.
-
Topik “aman” dan repetitif: memilih studi yang mudah dan cepat (survei deskriptif sederhana) ketimbang riset lapangan yang menuntut waktu dan kolaborasi lintas-sektor.
-
Minimnya kolaborasi lintas stakeholders (pemerintah, sekolah, dinas pendidikan) yang diperlukan untuk riset berdampak pendidikan.
-
Laporan teknis / policy brief yang minim — hasil penelitian tetap “terjebak” di jurnal akademik yang tidak dibaca praktisi sekolah/pemda.
4. Dampak terhadap kemajuan pendidikan Indonesia
-
Kesenjangan bukti-kebijakan: kebijakan pendidikan kurang didukung penelitian yang relevan, konteks-spesifik, dan teruji; akibatnya program pendidikan kadang berjalan tanpa evaluasi ilmiah yang memadai.
-
Pemborosan sumber daya: dana dan waktu habis untuk publikasi yang tidak terpakai; kesempatan hilang untuk riset terapan yang memecahkan masalah lokal.
-
Keterlambatan inovasi di sekolah: praktik pengajaran dan kurikulum tidak menerima masukan riset berkualitas yang bisa dipakai guru/pengambil kebijakan.
-
Menurunnya kredibilitas akademik: bila banyak publikasi berkualitas rendah, reputasi lembaga dan kepercayaan publik terhadap universitas menurun.
-
SDM peneliti terjebak rutinitas: generasi peneliti muda diarahkan untuk “berjudi” pada jumlah, bukan membangun jejak riset berdampak jangka panjang.
5. Perspektif Qur’ani & Etika Ilmiah
-
Landasan niat & manfaat: Al-Qur’an menekankan ilmu yang bermanfaat. QS. Al-Mujadila (58:11) menyatakan derajat orang berilmu ditinggikan — implikasi: ilmu untuk maslahat (kebaikan). QS. Al-‘Alaq (96:1) memerintahkan membaca/menuntut ilmu. (Kem Diktis Aintek)
-
Etika niat (niyyah): jika niat mencari publikasi hanya untuk status/gaji, maka ilmu kehilangan barakah dan manfaat sosialnya. Dalam tradisi Islam, pencarian ilmu yang bermakna harus diarahkan pada kemaslahatan umat, bukan riya’/pamer.
-
Rekomendasi etis: peneliti idealnya menyeimbangkan ihsan (keunggulan) ilmiah dengan maslahah (manfaat sosial).
6. Rekomendasi kebijakan & praktis (operasional, terukur)
Prioritas Jangka Pendek (0–12 bulan)
-
Reformasi indikator evaluasi kinerja
-
Universitas & lembaga akreditasi mengurangi bobot pure quantity; tambahkan metrik dampak (policy citations, pengaruh pada praktik sekolah, produk hilirisasi, paten, file open data yang dipakai pemda). (Contoh: ubah bobot SINTA-dominant menjadi kombinasi output & impact). (IAES)
-
-
Skema insentif untuk penelitian terapan & hilirisasi
-
Dana kompetitif khusus untuk penelitian yang jelas rencana translasi/pengabdian (bisa proposal co-created dengan dinas pendidikan/kabupaten). Kemdiktisaintek sudah menggerakkan pola ini; percepat skema lokal. (Kem Diktis Aintek)
-
-
Standarisasi anti-predatory & pelatihan publikasi
-
Kampanye & pelatihan untuk mengenali jurnal berkualitas; blacklist internal lembaga terhadap jurnal predator; layanan penulisan akademik & bahasa Inggris untuk meningkatkan akses ke jurnal bereputasi. (Eprints UPNYK)
-
Prioritas Jangka Menengah (1–3 tahun)
-
Integrasikan ‘knowledge translation office’ di universitas
-
Unit yang menangani komunikasi hasil penelitian ke pembuat kebijakan, guru, dan publik (policy brief, toolkit, pilot programs). Membiayai studi implementasi di sekolah-sekolah mitra.
-
-
Mekanisme kolaborasi pemerintah-akademik
-
Skema co-funded research: proposal hanya eligible bila ada mitra implementer (din. pendidikan provinsi/kabupaten / sekolah / NGO pendidikan) yang menandatangani MoU.
-
-
Evaluasi peer review & jurnal lokal
-
Tingkatkan kualitas jurnal lokal lewat pelatihan editorial, reviewer pools, dan transparansi peer review; dorong open peer review untuk accountability.
-
Prioritas Jangka Panjang (3–5 tahun)
-
Ubah kultur akademik
-
Pendidikan doktoral dan promosi dosen harus menilai jejak dampak (demonstrable impact) selain publikasi. Kinerja akademik diukur dengan indikator multipel: publikasi berkualitas, pengabdian, kurikulum yang diperbaiki berdasarkan penelitian, dan kontribusi kebijakan.
-
-
Pendanaan berkelanjutan untuk riset berdampak
-
Alokasikan anggaran khusus untuk studi implementasi pendidikan, RCT lapangan, dan pembiayaan pilot skala daerah.
-
7. Implementasi — contoh langkah konkret untuk universitas
-
Satu: Rubah Panduan Kenaikan Pangkat — cantumkan minimal 30–50% skor dari “dampak nyata” (mis. dokumen kebijakan yang menggunakan hasil, pilot yang meningkatkan outcome sekolah).
-
Dua: Luncurkan Hibah ‘Penelitian Kolaboratif Sekolah-Universitas’ — hibah kecil untuk co-design intervensi pembelajaran bersama guru (dengan KPI: perubahan skor belajar, praktik pengajaran).
-
Tiga: Bangun Dashboard Impact — setiap fakultas wajib memasukkan outcome kebijakan/publikasi yang diformat untuk pemangku kepentingan (dashboard publik).
-
Empat: Program Mentoring Penulisan & Publikasi untuk peneliti muda — fokus pada kualitas research design, pre-registration, dan publikasi yang bermakna.
8. Indikator untuk Monitoring & Evaluasi (KPI)
-
Persentase publikasi yang berisi data terbuka dan kode (open science).
-
Jumlah penelitian yang menghasilkan policy brief yang diadopsi oleh pemda/kemendikbud dalam 2 tahun.
-
Proporsi dana riset yang dialokasikan untuk riset terapan/hilirisasi vs. publikasi murni.
-
Jumlah jurnal lokal yang naik peringkat SINTA karena perbaikan kualitas peer review.
-
Survei tahunan kepuasan pemangku kepentingan (dinas pendidikan, kepala sekolah) terhadap relevansi riset universitas.
9. Risiko & Hambatan Pelaksanaan
-
Resistensi budaya: dosen senior yang “menguntit” metrik kuantitas akan menolak perubahan.
-
Kebutuhan kapasitas: banyak universitas perlu pelatihan translasi riset, manajemen proyek, dan skill penulisan kebijakan.
-
Pendanaan transitional: menggeser insentif memerlukan alokasi dana baru dan penyesuaian birokrasi.
10. Penutup: Kesimpulan singkat
Fenomena mengejar kuantitas publikasi di Indonesia adalah hasil dari kombinasi insentif birokratis, keterbatasan kapasitas, dan ekosistem publikasi global yang problematik. Dampaknya nyata: banyak penelitian tidak berdampak pada praktik pendidikan. Solusi harus bersifat sistemik — mengubah indikator penilaian akademik, memperkuat jalur translasi pengetahuan, membiayai riset terapan, dan menanamkan etika ilmiah (niat untuk manfaat). Pergeseran kebijakan pemerintah menuju riset berdampak adalah langkah awal yang baik — langkah selanjutnya adalah implementasi di level institusi dan perubahan kultur akademik yang konsisten dengan nilai-nilai Qur’ani tentang ilmu untuk kemaslahatan. (Kem Diktis Aintek)
Referensi & sumber utama (cek lebih lanjut)
-
Penjelasan SINTA & pengaruh metrik publikasi. (IAES)
-
Program Diktisaintek Berdampak (Kemdiktisaintek) — sinyal kebijakan pergeseran ke riset berdampak. (Kem Diktis Aintek)
-
Artikel analitis: Indonesian research access: quantity over quality? — gambaran isu akses & volume. (360)
-
Kajian global tentang publish or perish dan krisis kualitas publikasi. (PMC)
Comments
Post a Comment