Perbandingan Mazhab-mazhab Psikologi Umum (Barat) dengan Mazhab Psikologi Islam, dari sisi dasar epistemologi, konsep manusia, tujuan, metode, dan terapi.
🧠 KAJIAN ANALITIS: PERBANDINGAN MAZHAB-MAHZAB PSIKOLOGI UMUM DAN PSIKOLOGI ISLAM
I. Pendahuluan
Psikologi modern lahir dari tradisi filsafat Barat yang sekuler — berangkat dari pandangan humanistik, naturalistik, dan positivistik, yaitu mempelajari manusia semata-mata dari sisi empiris dan perilaku tampak.
Sementara psikologi Islam lahir dari pandangan tauhid, yaitu melihat manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani yang memiliki tujuan penciptaan (ghayah) untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56).
II. MAZHAB-MAZHAB PSIKOLOGI UMUM
| Mazhab | Tokoh Utama | Pandangan tentang Manusia | Fokus Kajian | Kelebihan | Kelemahan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. Psikoanalisis | Sigmund Freud, Carl Jung, Alfred Adler | Manusia digerakkan oleh dorongan bawah sadar (id, ego, superego) dan konflik batin. | Dinamika kepribadian dan masa lalu. | Menjelaskan konflik batin & masa kecil. | Reduksionis — mengabaikan ruh & nilai spiritual. |
| 2. Behaviorisme | John B. Watson, B.F. Skinner | Manusia = hasil stimulus–respon, bisa dikontrol dengan penguatan. | Perilaku yang tampak dan bisa diukur. | Empiris, bisa diuji. | Menafikan aspek batin dan spiritualitas. |
| 3. Humanistik | Abraham Maslow, Carl Rogers | Manusia cenderung baik dan ingin aktualisasi diri. | Potensi diri, kebebasan, makna hidup. | Menghargai manusia dan pilihan. | Masih antropo-sentris; makna hidup tanpa Tuhan. |
| 4. Kognitif | Aaron Beck, Jean Piaget, Ellis | Manusia berpikir dan menafsirkan dunia melalui proses mental. | Pola pikir, persepsi, penilaian diri. | Menekankan rasionalitas. | Mengabaikan peran ruh & hati dalam makna sejati. |
| 5. Biologis/Neurosains | Sperry, Gazzaniga | Perilaku dan emosi dijelaskan lewat fungsi otak dan hormon. | Hubungan otak–perilaku. | Dasar ilmiah kuat. | Menganggap kesadaran hanya produk biologis. |
| 6. Eksistensialisme | Viktor Frankl, Rollo May | Hidup bermakna lewat pilihan sadar menghadapi penderitaan. | Nilai hidup, makna, dan kebebasan. | Memberi makna moral pada penderitaan. | Tidak berlandaskan wahyu; makna ditentukan manusia. |
III. MAZHAB PSIKOLOGI ISLAM
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Dasar Epistemologis | Bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pengalaman empiris manusia, bukan hanya observasi. |
| Konsep Manusia (Insan) | Manusia terdiri dari ruh, qalb (hati), ‘aql (akal), dan nafs (jiwa). Keempatnya berinteraksi di bawah kendali tauhid. |
| Tujuan Hidup | Mencapai ketenangan jiwa (nafs muthmainnah) dan kedekatan kepada Allah (ma’rifatullah). |
| Sumber Masalah Psikologis | Ketidakseimbangan antara ruh–akal–nafs akibat jauh dari Allah dan hawa nafsu dominan. |
| Metode Penanganan (Terapi) | Tazkiyah an-Nafs (penyucian jiwa), dzikir, shalat, muraqabah, muhasabah, taubat, dan amal saleh. |
| Tokoh & Pemikir | Al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin), Ibnu Sina (Al-Qanun fi at-Tibb), Al-Raghib al-Isfahani, Malik Badri (psikologi modern Islami), dan Prof. H. Daradjat. |
IV. PERBANDINGAN FILOSOFIS (Esensial)
| Aspek | Psikologi Umum | Psikologi Islam |
|---|---|---|
| Asal-usul manusia | Evolusi biologis tanpa ruh | Diciptakan oleh Allah dengan ruh Ilahi |
| Struktur manusia | Tubuh & pikiran | Jasad, akal, qalb, nafs, dan ruh |
| Sumber pengetahuan | Observasi, eksperimen, dan rasio | Wahyu (Al-Qur’an & As-Sunnah) + akal sehat |
| Tujuan hidup | Aktualisasi diri, kebahagiaan dunia | Ridha Allah, kebahagiaan dunia–akhirat |
| Konsep sehat mental | Bebas dari gangguan fungsi psikis | Jiwa tenang, terkendali oleh iman & dzikir |
| Pendekatan terapi | Psikoanalisis, CBT, konseling | Dzikir, ibadah, tazkiyah, muraqabah |
| Konsep kebebasan | Otonomi individu mutlak | Kebebasan dalam koridor syariat |
| Konsep moral | Relatif, tergantung budaya | Absolut, berdasarkan wahyu |
V. ANALISA MULTIFAKTOR
| Faktor | Psikologi Umum | Psikologi Islam | Implikasi |
|---|---|---|---|
| Ontologi (hakikat manusia) | Materialistik – hanya tubuh dan pikiran | Spiritualistik – tubuh dan ruh ciptaan Allah | Menentukan arah teori kepribadian |
| Epistemologi (cara tahu) | Empiris – eksperimen dan observasi | Wahyu dan akal – seimbang | Pengaruh besar pada definisi sehat dan sakit |
| Aksiologi (nilai tujuan) | Kemanusiaan dan kesejahteraan dunia | Ibadah dan penghambaan | Berbeda dalam arah terapi |
| Metodologi | Terapi verbal, behavior, kognitif | Tazkiyah, ibadah, muhasabah, syariat | Psikoterapi Islami lebih menyentuh hati |
| Output ideal manusia | Aktualisasi diri (Maslow) | Nafs Muthmainnah (jiwa tenang) | Tujuan spiritual menjadi puncak kesehatan mental |
VI. IMPLIKASI TERHADAP PENGEMBANGAN ILMU DAN PERADABAN
-
Psikologi Umum mengembangkan teknologi dan terapi berbasis sains, tetapi gagal menjawab makna terdalam hidup manusia.
-
Psikologi Islam berpotensi membangun paradigma integratif: akal → hati → ruh, sehingga kesehatan jiwa bukan hanya "sehat pikiran", tapi juga sehat iman dan akhlak.
-
Dalam konteks modern, dibutuhkan “Islamic Psychology Framework” seperti yang digagas oleh Malik Badri (2021), H. Daradjat, dan Al-Attas — untuk melahirkan generasi ilmuwan Muslim yang rahmatan lil ‘alamin dalam pendekatan psikologinya.
VII. KESIMPULAN
-
Psikologi Barat menekankan mekanisme perilaku dan kognisi,
sedangkan Psikologi Islam menekankan tujuan hidup, hubungan ruhani, dan kesucian jiwa. -
Keduanya dapat dikawinkan secara integratif, di mana metode ilmiah digunakan untuk memahami mekanisme, tetapi nilai-nilai wahyu menjadi kerangka arah moral dan spiritual.
-
Dalam Islam, manusia bukan sekadar makhluk berpikir (homo sapiens), tapi makhluk yang beribadah (ʿabdullāh) dan pemakmur bumi (khalīfah).
Comments
Post a Comment