Impact Psikologi Digital di Media Sosial TikTok terhadap Kemajuan & Perkembangan Pendidikan di Indonesia
KAJIAN MENDALAM
Impact Psikologi Digital di Media Sosial TikTok terhadap Kemajuan & Perkembangan Pendidikan di Indonesia
(Dengan referensi ilmiah dan rujukan Al-Qur’an)
Ringkasan Eksekutif (intisari)
TikTok telah menjadi platform dominan bagi generasi muda Indonesia: menyajikan konten singkat yang sangat mudah dikonsumsi, bersifat algoritmik, dan berpengaruh kuat pada motivasi belajar, gaya perhatian, dan kesejahteraan psikologis pelajar. Bukti penelitian lokal menunjukkan efek ganda: di satu sisi TikTok berpotensi meningkatkan motivasi dan menyediakan sumber belajar microlearning; di sisi lain ia meningkatkan risiko perhatian terfragmentasi, adiksi digital, disinformasi, dan gangguan kesehatan mental bila digunakan berlebihan atau tanpa bimbingan. Kebijakan pendidikan nasional perlu mengintegrasikan literasi media digital, pedoman penggunaan platform berbasis bukti neurosains, serta mekanisme perlindungan anak/remaja. (Lembaga KITA Journal)
1. Latar & Metodologi Kajian
-
Pendekatan: sintesis literatur (studi empiris Indonesia & internasional 2019–2025), analisis neurosains terkait atensi dan reward system, serta telaah kebijakan nasional terkait perlindungan anak dan pendidikan digital.
-
Sumber utama: penelitian empiris di Indonesia tentang penggunaan TikTok dan hasil belajar; studi fenomenologis/kuantitatif tentang TikTok addiction; penelitian algoritma/platform tentang personalisasi feed; laporan kebijakan tentang pembatasan umur & perlindungan anak. (Lembaga KITA Journal)
2. Temuan Utama dari Literatur (ringkas)
2.1 Dampak Positif yang Berdasar Bukti
-
Sumber micro-learning dan motivator: beberapa studi lapangan di sekolah dan universitas di Indonesia menemukan bahwa konten edukatif singkat (demo praktik, rangkuman konsep, eksperimen visual) meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman konseptual bila disusun pedagogis dan dikurasi. Penggunaan yang diarahkan guru (TikTok sebagai homework/flip-class) menunjukkan kenaikan motivasi dan hasil belajar pada kelompok tertentu. (Lembaga KITA Journal)
2.2 Dampak Negatif yang Berdasar Bukti
-
Perhatian terfragmentasi & multitasking: konsumsi konten cepat (6–60 detik) melatih rentang perhatian untuk konten cepat sehingga menurunkan kapasitas fokus mendalam (deep work) yang diperlukan untuk pembelajaran kompleks.
-
Potensi adiksi dan gangguan kesehatan mental: studi kualitatif/kuantitatif menunjukkan pola penggunaan bermasalah pada sebagian remaja—gejalanya mirip ketergantungan perilaku (interferensi aktivitas harian, mood regulation via aplikasi). Pola penggunaan bermasalah terkait dengan peningkatan gejala kecemasan/depresi pada beberapa sampel. (PMC)
-
Kualitas materi & disinformasi: banyak konten kesehatan/pendidikan di platform tanpa verifikasi; pengguna kurang terlatih memverifikasi sumber sehingga berisiko menyerap informasi keliru. (E-Journal Universitas Airlangga)
3. Mekanisme Neurosains & Psikologi yang Menjelaskan Dampak
-
Sistem reward & dopamin: interaksi like/comment/scroll menghasilkan reward mikro (notif, dopamine hits) → reinforcement cepat → kebiasaan scanning vs. deep processing. Ini menjelaskan mengapa remaja lebih memilih konten singkat dibandingkan belajar berfokus lama. (SAGE Journals)
-
Atensi selektif & kognisi eksekutif: paparan terus-menerus pada stimulus cepat menurunkan kapasitas sustained attention dan memaksa switching cost tinggi ketika kembali ke tugas akademik berat. Neurosains menunjukkan korteks prefrontal yang terlibat dalam kontrol atensi perlu latihan konsisten untuk fungsi optimal (relevan pada usia remaja).
-
Social comparison & self-concept: feed yang terpersonalisasi memperkuat perbandingan sosial (likes/views) → risiko rendahnya harga diri atau tekanan performatif yang mengganggu belajar. (SAGE Journals)
4. Dampak Spesifik pada Pendidikan & Proses Belajar di Indonesia
-
Kurikulum & Metode Pengajaran: guru yang memanfaatkan TikTok secara pedagogis (video demo, ringkasan, micro-assignments) melihat engagement meningkat; namun tanpa scaffolding (pendalaman, diskusi, tugas berpikir kritis) efektivitas jangka panjang terbatas. (Lembaga KITA Journal)
-
Disparitas Akses & Kualitas: akses ke konten edukasi berkualitas bergantung pada kemampuan guru/penyedia konten. Daerah terpencil berisiko hanya menerima konten hiburan.
-
Peran Sekolah & Orang Tua: perlunya aturan penggunaan gawai di sekolah, pendidikan literasi digital, dan monitoring penggunaan di rumah untuk mencegah overuse yang merugikan jam belajar. Studi lokal mencatat korelasi antara jam penggunaan tinggi dan penurunan kinerja/keaktifan belajar pada sebagian siswa. (Cahaya Ilmu Cendekia)
5. Implikasi Kebijakan & Regulasi (Indonesia)
-
Minimum age / perlindungan anak: inisiatif pemerintah (diskusi pembatasan usia) dan komitmen regulasi platform penting untuk perlindungan pengguna muda. Kebijakan seperti verifikasi usia dan fitur parental control perlu dipercepat implementasinya. (ABS-CBN)
-
Panduan penggunaan di lingkungan pendidikan: Kementerian Pendidikan/Kemenkominfo perlu mengeluarkan pedoman nasional tentang integrasi platform pendekatan microlearning, termasuk standar kualitas konten edukatif dan batasan waktu penggunaan di lingkungan sekolah.
-
Literasi digital & evaluasi sumber: kurikulum wajibkan modul literasi media yang mengajarkan cara verifikasi sumber, memahami bias algoritma, dan manajemen diri digital.
-
Kebijakan kesehatan mental & intervensi: integrasi screening digital-related problems dalam layanan sekolah/puskesmas sekolah; rujukan untuk kasus penggunaan bermasalah. (E-Journal Universitas Airlangga)
6. Rekomendasi Praktis untuk Pendidikan (Sekolah / Guru / Orang Tua)
-
Sekolah: Terapkan “digital diet” klasikal — blok waktu tanpa gawai plus sesi microlearning terstruktur (guru mengarahkan, bukan hanya menugaskan menonton).
-
Guru: Gunakan TikTok sebagai entry point (hook) — selalu ikuti dengan tugas berpikir tingkat tinggi (analisis, elaborasi, diskusi) dan assessment yang mengukur deep understanding. (ScienceDirect)
-
Orang Tua: Terapkan aturan rumah (jam belajar bebas gawai), jelaskan alasan, dan ajarkan kemampuan verifikasi informasi.
-
Developer/Platform: Dorong fitur edukasi terverifikasi, parental controls, dan mode learning yang menonaktifkan rekomendasi hiburan selama belajar.
7. Etika, Nilai Qur’ani & Pendekatan Islam terhadap Teknologi
-
Prinsip yang relevan: perintah mencari ilmu dan kehati-hatian terhadap hal yang belum jelas. Beberapa rujukan Qur’ani relevan antara lain:
-
Perintah menuntut ilmu: “Bacalah!” (QS. Al-‘Alaq 96:1) — menegaskan pentingnya ilmu dan pembelajaran.
-
Larangan mengikuti tanpa ilmu: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’/Bani Isra’il 17:36) — relevan untuk mengingatkan terhadap penyebaran disinformasi.
-
Menjaga diri dari kerusakan: “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (parsial dari makna QS. Al-Baqarah 2:195) — dapat ditafsirkan sebagai kewajiban menjaga kesehatan jiwa dan menghindari kebiasaan yang merusak.
-
-
Implikasi praktis: pendekatan pendidikan berbasis nilai (akhlak & adab digital), dakwah literasi yang melibatkan tokoh agama untuk mengurangi stigma terhadap perlindungan mental dan mengajarkan penggunaan teknologi yang bermanfaat.
8. Celah Penelitian & Agenda Riset Indonesia
-
Validasi efek jangka panjang: studi longitudinal tentang hubungan penggunaan TikTok dengan capaian belajar dan mental health pada pelajar Indonesia (konteks kultural lokal).
-
Intervensi berbasis neurosains: uji program pembelajaran yang mengkombinasikan microlearning + latihan perhatian berkelanjutan (attention training) untuk melihat efek kompensasi terhadap fragmentasi atensi.
-
Evaluasi konten edukasi: studi RCT pengaruh konten edukasi TikTok terstruktur terhadap hasil belajar dibandingkan metode tradisional.
-
Analisis algoritma lokal: kajian bagaimana personalisasi feed mempengaruhi exposure terhadap materi edukatif vs. hiburan pada populasi pelajar Indonesia. (ScienceDirect)
9. Rekomendasi Kebijakan Tingkat Tinggi (ringkas)
-
Kemdikbud & Kemenkominfo kembangkan Pedoman Nasional Integrasi Media Sosial dalam Pendidikan (quality control, parental control, jam aman penggunaan).
-
Luncurkan program Literasi Media & Manajemen Diri Digital menjadi kurikulum wajib.
-
Implementasikan monitoring & surveillance penggunaan digital bermasalah di sekolah (screening rutin; layanan rujukan).
-
Fasilitasi penelitian nasional (multi-center longitudinal) pada efek TikTok terhadap kognisi & mental health.
-
Gandeng tokoh agama/komunitas untuk kampanye nilai penggunaan teknologi yang sehat (sinergi Qur’ani). (ABS-CBN)
10. Kesimpulan
TikTok berpotensi menjadi alat bantu pendidikan yang kuat bila digunakan secara terarah — namun platform ini juga membawa risiko psikologis dan kognitif yang nyata, terutama bagi pelajar yang sedang dalam perkembangan. Pendekatan yang seimbang menggabungkan kebijakan regulasi, kurikulum literasi digital, intervensi neurosains-informed untuk menjaga atensi, serta nilai-nilai Islam tentang ilmu dan kehati-hatian dapat memaksimalkan manfaat sambil meminimalkan bahaya.
11. Referensi Pilihan (sumber utama yang dipakai dalam kajian ini)
-
Amril & Sazali. Impact of Using TikTok on Student Lifestyles / Influence on Learning Outcomes (studi di Indonesia, 2025). (Lembaga KITA Journal)
-
Caponnetto, P., Does TikTok Addiction Exist? A qualitative study (2025). (PMC)
-
Dekker, C.A., For you vs. for everyone: effectiveness of algorithmic personalization (2025). (ScienceDirect)
-
Laporan/jurnalis: Reuters / regional reporting on Indonesian proposals for age limits and parental controls (2025). (ABS-CBN)
-
Adha, AZ., Potential and Challenges of TikTok as Media for Mental Health (UNAIR e-journal, 2025). (E-Journal Universitas Airlangga)
-
Artikel dan ringkasan penelitian internasional tentang screen use & adolescent mental health (JAMA/press summaries, 2025). (The Guardian)
Comments
Post a Comment